Senin, 25 Juli 2016

Berinvestasi Masa Depan bersama Zenius

---warning : this is gonna be a very long post---



               Halo sobat Zen! perkenalkan nama saya Berlian, saya dari SMA Negeri 3 Semarang angkatan 2016. Di blog ini saya akan berbagi tentang pengalaman saya dalam menghadapi SBMPTN dan UM-UM (Ujian Mandiri) yang pernah saya ikuti. Saya harap tulisan ini dapat dijadikan semangat sekaligus bermanfaat untuk kalian semua ^^
               Sebelum menerjang ke cerita heroik menembus SBMPTN, saya akan menggabarkan terlebih dahulu siswa seperti apa diri saya ini selama SMA, hehehe. Jadi Berlian SMA adalah siswa yang bukan termasuk papan atas dalam segi akademik, tapi jujur waktu itu saya sangat menikmati bergabung dalam berbagai organisasi, kepanitiaan, kegiatan, dan mengikuti kompetisi. Mungkin itu sebabnya prestasi saya dalam akademik jadi kurang maksimal, namun usaha ekstra juga saya lakukan demi mengejar ketertinggalan jika ada kelas yang tidak saya ikuti. 
               Hal itu berlangsung selama 4 semester, saya sangat terlena dengan masa-masa itu hingga menjelang kelas 12 saya baru menyadari betapa dahsyatnya medan yang akan saya hadapi kemudian. Sebenarnya hampir seluruh guru telah mengingatkan kami semua sejak masuk menjadi siswa SMA 3 Semarang, untuk menjaga nama baik khususnya dalam hal pelajaran. Jadi wejangan-wejangan, tugas-tugas, dan persaingan kelas yang ketat adalah santapan setiap hari. Saat itu saya berfikir, ikuti aja semua pelajaran, kerjakan aja semua tugas, belajar aja setiap malam, maka saya yakin saya pasti bisa mengerjakan semua ulangan-ulangan yang ada, begitu pikir saya.
Semester 2 dan 3  adalah puncak-puncaknya saya menyibukkan diri dalam hal non-akademik. Hingga chairmate-saya memberikan saya  tamparan yang luar biasa saat kita mendapati nilai ulangan fisika. Nilai saya sangat jelek waktu itu, padahal malam sebelumnya saya sudah belajar. Ya, saya membuktikan betapa dasyatnya belajar SKS (Sistem Kebut Semalam)+ menghafal telah berhasil meluluhlantakan nilai saya. Saat itu saya mengeluh padanya, dan apa responnya? “Berli, jangan terlalu banyak ikut kegiatan dong, coba pikirin nilai-nilaimu. Sebentar lagi kan kita uda kelas 12, kamu bisa kok. Cuman ya,kegiatanmu tadi ” itu responnya. Perasaan saya ketika itu adalah terkejut, bahkan sahabat saya saja peduli dengan nilai-nilai saya, masa saya sendiri cuek. Dan 4 semester berlalu, apa yang saya dapat? Nilai-nilai hampir selalu mepet kkm, ipk rapot tidak terlalu tinggi, dan impian mendapat 10 besar rangking kelas pupus. Sedih, iya sedih. Tapi saya baru benar-benar sedih dan menyadari ketika tamat menyelesaikan semester 4. Itu artinya saya akan menjadi salah satu ujung tombak penentu nasib diri saya, orangtua, sekolah, dan adik-adik kelas. Semua akan menjadi pertaruhan, kawan!!
]
Liburan menuju kelas 12 akhirnya tiba. Saya memilih untuk lebih sering berada di rumah, saat itu adalah bulan suci Ramadan. Saya banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, mengaji, merenung dan memikirkan hal-hal yang akan saya lakukan ke depannya. Perasaan saya sangat kacau saat itu, entah saya bisa memperbaiki semuanya atau tidak, tapi yang jelas saya sudah membangun tekad saya untuk tidak main-main di kelas 12. Ketika saya kumpul keluarga dalam rangka Idul Fitri, saya mengumpulkan uang hasil nge-job (re: mengisi acara), dan dengan yakin saya akan menggunakan uang itu untuk berinvestasi dalam menunjang tekad saya. Saya membeli voucher elektrik 12 bulan Zenius.net seharga Rp.440000 di Indomaret terdekat. Tadinya saya ingin sekali membeli X-Pedia, tapi mengingat kantong terbatas. Dengan dibarengi tekad, menurutsaya sudah cukup!
Genderang perang pun mulai ditabuh, kelas 12 akan segera dimulai. Rasa percaya diri saya sebenarnya belum begitu kuat ketika melihat performa teman-teman -yang selama ini giat belajar- begitu mendapat soal mereka sudah dengan mulus mengerjakan. Sedangkan saya? Masih celingak-celinguk memikirkan harus mengerjakan dari sebelah mana (khususnya fisika). Akhirnya saya mencoba membujuk mami untuk mengijinkan saya les di bimbel belakang sekolah dengan harga yang sedikit lebih terjangkau. Jadi di awal semester 5, hari-hair saya saya jalani dengan belajar seharian. Zenius dari jam 3 pagi hingga subuh, pagi hingga sore sekolah fullday, sore les bimbel, dan malamnya mengerjakan tugas dan Zenius, selalu seperti itu. Tadinya saya pikir saya akan kelelahan sesudah seharian belajar, tapi mendengar suara tentor-tentor Zenius yang gokil, jadi semangat lagi! Alhamdulillah, nilai semester 5 yang saya dapatkan meroket jauh. Di akhir semester 5, saya mendaftar Ujian Mandiri UGM International Undergraduate Program (IUP) of Law (first intake) ,pendaftarannya memang sangat awal yang bisa diindakasikan bahwa besar peluang untuk bisa lolos, meskipun begitu persiapannya banyak sekali, belum lagi pendaftar-pendaftar  yang sudah pernah mencoba sebelumnya membuat Ujian Mandiri ini sangat menantang. Tapi sayangnya, saya belum beruntung. Setidaknya saya sudah banyak mencicil materi bahasa Inggris dan menjadikan ini sebagai reminder!
Kegagalan itu saya jadikan motivasi dalam memulai semester 6, intensitas dan frekuensi belajar saya semakin saya tingkatkan. JANGAN LENGAH, kata itu diucapkan mami saya dan  selalu memacu saya tidak hanya untuk belajar namun juga beribadah dan menjaga kesehatan. Oiya, sedikit intermezzo. Berakhirnya semester 5 berarti dimulainya persiapan berbagai berkas untuk SNMPTN. Berbagai kebijakan baru yang diadakan kemendikbud salah satunya yaitu penetapan kuota 75% (sekolah berakreditasi A) dari skala sekolah untuk selanjutnya dibawa ke skala nasional. Jujur, banyak dari kami yang kecewa dengan kebijakan baru tersebut. Saya pun berpikir demikian (walaupun sebenarnya saya tahu diri untuk tidak terlalu berharap pada SNMPTN karena track record saya selama ini) ,tapi menurut saya kesempatan bersaing dalam kancah nasional lewat nilai-nilai rapot (SNMPTN) berkat  jerih payah selama 5 semester adalah hak untuk setiap siswa kelas 12 terlebih lagi hasilnya pun akan diumumkan di awal semester 6, maka bukan tidak mungkin akan berimbas pada segi mental siswa yang nantinya akan menghadapi Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN) setelahnya.
Akhirnya pengumuman 75% sudah ter-publish, alhamdulillah saya termasuk dalam jajaran di dalamnya. Tapi itupun rasanya kurang menyenangkan. Terlebih ketika melihat teman-teman seperjuangan yang tidak tergabung di dalamnya, dilihat dari raut muka mereka dan postingan sosial media untuk meluapkan kekecewaan mereka. Jadi menurut saya kebijakan itu baik dari segi persiapan SBMPTN yang berarti dapat dilakukan jauh-jauh hari, namun dalam prakteknya hal itu dirasa kurang adil dan berdampak dari segi mental siswa. Namun apa boleh buat, akhirnya kami saling menyemangati satu sama lain. Di semester 6 kami disibukkan dalam segala macam persiapan UN dan Try Out. Tapi kalau saya sih memang lebih memilih sarannya Bang Sabda, memperjuangkan SBMPTN!!
Hal yang lebih memilukan pun akhirnya terjadi, saat sesudah UN dan pengumuman SNMPTN akhirnya keluar. Sekolah saya SMA N 3 Semarang, berhasil menggemparkan dunia pendidikan Indonesia. Permasalahannya adalah 100% siswa IPA reguler jalur SNMPTN tidak ada yang diterima satu pun. Bukannya sombong, namun sekolah itu memang salah satu sekolah favorit dan otomatis jalur undangan adalah idaman setiap insan siswa+orang tua+pihak sekolah+pemerintah. (  kecuali saya :”)  ) Kejadian ini pun menjadi tragedi yang membuat kami semua pihak berfikir bahwa sepertinya ada kejanggalan dalam sistem input data. Hingga saat ini pun kasus ini masih diselidiki oleh para orang tua siswa, sekolah dan pemerintah. Namun hal yang ingin saya sampaikan adalah banyak dari teman-teman saya yang beberapa saat terlarut dalam menanggapi hal ini, disatu sisi hal itu wajar, namun disisi lain kita semua harus saling mengingatkan dalam persiapan SBMPTN. Dengan berbagai pemberitaan di media yang simpang siur, keadaannya pun kadang tidak terlalu kondusif. Terkadang di sela-sela belajar, kami jadi keasyikan mendiskusikan hal ini –yang notabenenya kami ada sangkut paut di dalam permasalahan itu secara langsung-. Belum lagi ketika orang-orang lain yang kepo ikutan bertanya dan meminta penjelasan dari kami. Kadang saya menjadi sedikir khawatir akan pecah konsentrasi. Namun saya selalu ingat untuk JANGAN LENGAH.
 Oiya tidak lama seudah itu, saya mengikuti Ujian Mandiri UGM (lagi) yang namanya Penelusuran Bakat Olahraga dan Seni (PBOS). Jalur ini dibuka sebelum adanya SBMPTN, so memang banyak sekali yang memanfaatkan kesempatan ini jika diliat dari pendaftarnya yang mencapai ribuan. Di PBOS terdapat 3 tahap yaitu seleksi berkas, tes tertulis, dan tes ketrampilan. Di tahap kedua saya benar-benar tidak menyangka karena dari sekitar 800-an yang lolos tahap pertama akan disaring menjadi hanya  70  orang. Sekali lagi, berkat  Zenius di bagian  TPA which is seringkali ‘diam-diam menghanyutkan’ ,saya lolos. Puji syukur ! Saat  itu saya mendaftar IPC (Kedokteran Gigi dan Hukum). Tapi sayangnya di tahap tiga, keberuntungan belum ada di pihak saya. Aga deg-degan sih (re: banget), karena itu berarti SBMPTN suda di depan mata. Hingga saatnya saya bener-bener punya niatan untuk memilih antara Saintek atau Soshum supaya belajar saya lebih maksimal. Karena jujur saja, apa yang dikatakan Bang Sabda di video-video Zenius Learning which is sangat mengingatkan kita bahwa DELIBERATE PRACTICE  dan persiapan sejak jauh-jauh hari itu benar dan sangat ampuh, so strategi saya saat itu adalah benar-benar fokus di salah satu bidang, dan akhirnya saya memilih Soshum.


*Banyak diantara teman-teman saya yang bertanya “Loh Berli kok jadinya ambil Ilmu Hukum?” and so on.. padahal dulu saya sangat anti untuk memasuki ranah social studies ini. Namun kala itu saya mendapat sebuah getaran hati dari dalam diri saya. Papi saya telah meninggal dunia dan setelahnya  banyak hal yang terjadi, disitu saya sangat merasakan betapa susahnya menjadi seorang single-parent dan anak yang kehilangan ayahnya dalam mengarungi kehidupan. Mungkin hal ini terdengar terlalu alay dan abstrak,namun hal tersebut nyata, seperti banyaknya hambatan dari segi finansial, sosial dan lain-lain. Akhirnya saya tergerak untuk memiliki sebuah foundation untuk menyantuni anak-anak yatim dan melindungi para widow yang seringkali dalam posisi yang kurang mengenakan ketika bersosialisasi di masyarakat. Untuk mewujudkan cita-cita itu, maka saya pun merasa harus mengetahui bagaimana cara melindungi mereka dari berbagai aspek khususnya dalam ranah hukum.*


Sebenarnya saya juga sedih sih karena setiap hari saya selalu menjadi pendengar setia Bang Wisnu, Bang Pras dan Kak Yoki, kini saya harus benar-benar vacum saintek,banting stir ke soshum dan pentengin kak Faishal (menggebu banget setiap kali bercerita) ,bang Pio (gokil parah suaranya, saya jadi ketawa-ketawa sendiri) dan yang pasti Bang Sabda (yang selalu bikin belajarnya cewe-cewe jadi suka salah fokus karena melting dengerin suaranya ,hahaha!). Oiya lucunya lagi, mami saya itu suka banget kalau nemenin saya belajar Zenius setiap harinya, saking-saking malah mami request buat dengerin Ekonomi lah atau Geografi atau yang lain, supaya tambah pinter katanya. Hingga peliharaan mami juga beliau kasi nama Zenius agar saya selalu ingat dan tidak lengah seperti masa-masa perjuangan, ada-ada saja emang.
Meskipun ini ilmu baru yang saya pelajari tapi berkat Zenius saya bisa benar-benar paham banget  konsepnya. Jujur saya waktu itu baru berbekal  Ekonomi dan Sejarah doang pas kelas 10 sampai 11, selebihnya masih benar-benar belum tau. 
Belajar dengan Zenius itu menurut saya bisa  santai dan bikin mudeng! Beberapa kali saya try out dan hasilnya puji syukur selalu memuaskan, jadi teman-teman seperjuangan dan khususnya yang sama-sama banting stir seperti saya, mereka meminta saya untuk mengajari dan menjelaskan. Alhasil saya pun juga makin ingat, thanks berat Zen! 
Detailnya saya milih :
Pilihan 1 SBMPTN : Ilmu Hukum Universitas Diponegoro
Pilihan 1 UTUL : Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada
Pilihan 1 UM UNDIP : International Undergraduate Program (IUP) International-Bussines Management  






Alhamdulillah, ketiganya saya lolos di pilihan satunya Zen!!! dan akhirnya saya memilih Ilmu Hukum Universitas Diponegoro (SBMPTN). Puji syukur, mami saya bangga sekali dan saya pun senang setidaknya telah membuat mami bangga! Dan INI BUKAN AKHIR, NAMUN AWAL DARI PERJUANGAN YANG SESUNGGUHNYA.

So guys, banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang saya dapatkan selama SMA ini khususnya di kelas 12 dan berkat Zenius juga saya bisa meraih ini semua. Terlepas banyak kegagalan dan masalah yang pernah saya hadapi, jika dibarengi tekad dan niat pasti semua akan tercapai. Yang sangat berkesan bagi saya dari Zenius adalah Zenius Learning –disampaikan oleh Bang Sabda waktu itu- Zenius bukan cuma ngebantu lo buat tembusin ujian-ujian yang ada tapi lebih daripada itu, Zenius juga ngebantu lo untuk membangun fondasi-fondasi pemikiran lo dalam berolah pikir ke depan. Ya,saya mendapatkan itu semua dari Zenius dan itu yang menurut saya adalah ilmu yang ngga setiap kita temui dan sangat berharga. Sekali lagi saya mau bilang terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Zenius Education yang uda membantu kami semua selama ini dalam meraih cita-cita.
Semoga tulisan ini memberi inspirasi untuk semua, thanks guys!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar