Kamis, 31 Desember 2015

“ How To Be a Good Announcer and Presenter? ”


Review and Practicle Broadcasting Festival Pro 2 RRI



Hai semuanya, kali ini saya ingin mengulas dan berbagi pengalaman tentang sebuah workshop yang baru saja saya hadiri. Workshop ini bertakjub Broadcasting Festival Pro 2 RRI yang diselenggarakan oleh mahasiswa Undip Ilmu Komunikasi. Workshop ini diadakan pada hari  Minggu, 27 Desember 2015  pukul 9.00-15.00 WIB di auditorium RRI Jalan Jend A Yani No 144 – 146 Kota Semarang Jawa Tengah. Pada workshop kali ini terdapat  3 speakers yaitu Kak Lintang Ratri Rahmiaji, S.sos, M.Si beliau adalah seorang akademisi (dosen) belia Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang, lalu Kak Reza Aditya, beliau adalah seorang praktisi dalam bidang Radio Broadcasting sebagai music director Pro2 FM RRI Semarang, lalu ada juga Mbak Lintang Dwi, seorang praktisi dalam bidang TV Broadcasting yaitu News Reader NET TV Semarang. *p.s. Mbak Lintang sebagai speaker pengganti sekaligus sahabat dari Mbak Dheayu Jihan Bias Khansa (Reporter dan Presenter TVKU). Workshop ini dimeriahkan pula oleh penampilan dari Beach and Blue Sky serta IFGC (Indonesian Fingerstyle Guitar Community).

Kenapa acara ini diadakan? Dari perspektif saya, hal ini disebabkan karena semakin banyak media massa dan media sosial yang kian menarik dan seringkali menampilkan konten-konten yang beragam. Sehingga membuat anak muda tertarik untuk terjun dan berkarir di dalamnya. Acara ini diselenggarakan untuk umum, namun karena penyelenggaranya dari jenjang universitas, mayoritas pesertanya berasal dari kalangan mahasiswa berbagai fakultas. Saya sendiri (yang notabennya sebagai pelajar SMA) hanya menemukan 2 pelajar SMA pada acara ini. Saya juga sempat berkenalan dengan peserta lain seperti Kak Gusti mahasiswa Undip Akuntansi semester 6, Kak Nadia mahasiswa Biologi semester 4, dan masih banyak lagi. Workshop ini dibuka oleh Ibu Arianti sebagai kepala stasiun RRI Semarang dan terbagi menjadi 3 sesi yaitu sesi Public Speaking, sesi Radio Broadcasting dan sesi TV Broadcasting.


Sesi pertama yaitu tentang Public Speaking dibuka oleh Kak Lintang (@lintangratrii)  ,seorang dosen muda dan psikolog komunikasi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan pengalamannya dalam bidang ini. Sapaan yang meriah dan lantang membangkitkan semangat para peserta di hari Minggu pagi. Kak Lintang dan juga 2 speakers setelahnya lebih memilih untuk berdiri sambil berinteraksi dengan para peserta dibandingkan duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia di panggung. Kak Lintang membuka sesinya dengan menunjukkan hasil survei yang memperlihatkan hal-hal yang membuat manusia merasa takut, seperti saat dikejar anjing, takut ketinggian, takut tenggelam dan lain-lain. Namun yang menduduki peringkat nomor 1 yaitu … takut berbicara di depan umum. Hal ini pun “di-iya-kan” oleh sebagian besar peserta workshop. Seketika Kak Lintang menghampiri beberapa peserta dan menanyakan mengapa mereka merasakan ketakutan ketika harus berbicara di depan publik. Alasannya pun sangat umum sebenarnya, seperti mereka tidak memiliki topik bahasan untuk diutarakan, takut tidak mendapat respon yang antusias dari listeners, kurang percaya diri dll. Pertanyaan selanjutnya yaitu bagaimana cara peserta untuk mengurangi nervous mereka sebelum berbicara di depan umum. Ketika Kak Lintang menghampiri saya, saya menjawab biasanya saya selalu meminum air mineral dan membaca doa pendek, peserta lain ada yang menjawab dengan meyakinkan dirinya bahwa “I can do this”, bahkan ada juga yang dengan loncat setinggi-tingginya . 

Setelah mendengarkan beberapa pernyataan dari audience, kak Lintang mencoba untuk membuka pikiran peserta. Menurutnya, manusia adalah seorang insan yang pastinya memiliki kemampuan dasar untuk berkomunikasi, tinggal seberapa sering kita berlatih dan mengasah kemampuan berkomunikasi kita, sehingga kita bisa lancar dan percaya diri untuk berbicara di depan umum. Inti dari sebuah komunikasi menurut kak Lintang yaitu Break up the eyes, speak up your minds and make the world say yes.

Nah, lalu bagaimana cara  membuat sebuah komunikasi dengan publik menjadi efektif? Kuncinya adalah dengan membuat komunikasi yang kreatif, atraktif dan komunikasi 2 arah. Saat ini masyarakat lebih menyukai hal-hal yang tidak monoton, maka sudah jelas seorang public speaker dituntut untuk dapat “mengulik” sesuatu yang menarik dan dibutuhkan orang-orang disekitarnya. Itulah sisi kreatif yang dibutuhkan. Dari segi atraktif, seorang public speaker saat ini juga harus piawai dalam menguasai suasana listeners dan tidak kaku. Atraktif bisa disuguhkan dalam berbagai cara dan menurut saya, hal itulah yang dapat membedakan  karakteristik seorang speaker satu dengan lainnya. Atraktif pun bukan berarti over acting. Namun intinya bisa membuat fresh ambience. Dan ketiga yaitu komunikasi 2 arah. Kak Lintang menyebutkan bahwa hal inilah yang sering menjadi kelemahan dari seorang speaker. Dimana mereka biasanya “terlalu sibuk” dengan topik pembicaraan. Sehingga keterlibatan dan interaksi bersama audience menjadi kurang. Itulah mengapa Kak Lintang selalu menitikberatkan pada poin ini. Agar audience tidak hanya mendengarkan, namun betul-betul paham dengan konteks yang sedang mereka perbincangkan.

Disamping latihan berbicara di depan publik, Kak Lintang pun menyarankan untuk keluar dari circle people yang tidak kondusif. Contohnya seperti orang-orang yang biasanya menyuruh kita untuk diam dan membiarkan mereka yang berbicara, sebaiknya kita sedikit menghindari circle people yang seperti itu agar kesempatan untuk mengasah kemampuan berpublic speaking kita tidak hilang. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum ber-public speaking yaitu :
1.      Find the topic
2.      Make the outlines
3.      Gather the info
4.      Research the audience
5.      Write your text
6.      Practice, Practice, Practice !

Sesi kedua yaitu mengenai Radio Broadcasting dibawakan oleh Kak Reza Aditya (@akulahREZA). Pada awal sesinya, Kak Reza bertanya pada audience Siapa yang mau menjadi penyiar dan apa alasannya? Beberapa peserta pun ada yang menjawab karena untuk menjadi seorang penyiar kita tidak harus berhadapan langsung dengan listeners, lalu bisa menyalurkan hobi berbicara dll. Setelah itu kak Reza menguji audience dengan pertanyaan, seberapa sering kita mendengarkan radio saat ini? Berapa lama durasi maksimal mendengarkan radio? Hingga pertanyaan yang “menyentil” yaitu Saat mendengarkan radio, yang kita dengarkan itu penyiarnya atau musiknya? NAH!

Kak Reza juga memberikan gambaran tentang kondisi per-radio-an Indonesia saat ini, yang mana mereka harus mampu bersaing dengan “rival bebuyutan”-nya yakni, televisi. Menurutnya masyarakat bisa melihat TV seharian, tapi untuk mendengarkan radio mungkin hanya beberapa menit saja. Dan saat ini, kaum muda lebih menikmati musiknya saja, dalam artian ketika penyiar berbicara terlalu lama atau membosankan, mereka lantas mengganti saluran. Banyaknya stasiun radio serta popularitas radio yang sedang “downgrade” membuat radio pun harus lebih memperhatikan keinginan listeners dan juga membuat segmen-segmen unggulan yang tidak dimiliki oleh radio lain. Kak Reza mengutarakan bahwa saat ini untuk menjadi penyiar tidaklah harus memiliki suara yang bagus, namun yang lebih diutamakan adalah kecerdasan dalam broadcasting. Penyiar sebaiknya dapat menyampaikan maksud dan tujuannya secara singkat, jelas ,menarik dan to the point terhadap listeners. Atau Kak Reza sebut “KISS” Keep It Short and Simple. Oiya, dia juga menambahkan bahwa meskipun tidak berinteraksi secara langsung dengan listeners, penyiar tetap harus berpenampilan yang menarik. Sebagai spesialis music director PRO 2 FM, kak Reza membocorkan tips menjadi MD (Music Director) yang profesional diantaranya MD baiknya memutar playlist yang universal dan bisa mengontrol moodnya. In casenya seperti ini, jangan seperti ketika MD sedang dikondisi mood yang baik, lagu yang diputarkan adalah lagu bahagiaa semua, dan ketika moodnya sedang buruk ,lagu yang dimainkan hanyalah lagu galaaau semua. *sontak semua peserta tertawa, termasuk saya* Disamping itu, MD juga dituntut untuk dapat memahami selera musik kaum muda yang silih berganti.

Juga disebutkan oleh Kak Reza bahwa RRI Semarang sendiri memiliki 4 saluran yang berbeda penikmatnya diantaranya :
Pro 1 di 89fm dengan penikmat seluruh kalangan usia (dari yang baru lahir sampai mau mati).
Pro 2 di 95.3fm untuk kaum muda usia 15-25 tahun, lebih banyak playlist musik.
Pro 3 di 92.2fm berisi berita se-Indonesia, siaran di Jakarta
Pro 4 di 82.2fm khusus kesenian dan budaya 55% wayang kulit
Telah tersedia juga RRI Play Android yang bisa didownload free
Program unggulan RRI yang tidak dimiliki radio lain diantaranya : Be Young (chart band-band indie se-Indonesia) dan RRI 30 detik (citizen journalism) dan masih banyak lagi.

Untuk menjadi penyiar yang handal harus memiliki skill komunikasi yang baik dalam berinteraksi dengan seorang narasumber dan partner. Tantangan yang acapkali terjadi ialah menghadapi narasumber yang terlalu banyak berbicara maupun sebaliknya. Kak Reza pribadi dalam kesehariannya menginterview seorang narasumber yang terlalu banyak berbicara, lebih memilih untuk segera memotong pembicaraan yang terlalu panjang, hal tersebut ia lakukan demi tuntutan. Karena menurutnya, hasil baik atau buruknya interview tergantung dari si penyiar, intinya tidak ada narasumber yang salah, yang ada penyiar-nya lah yang salah. *paham ya?* Saya sempat melayangkan sebuah pertanyaan yaitu bagaimana menghasilkan kolaborasi broadcasting yang baik ketika sedang bersama partner DJ. Ia berbagi tips untuk yang satu ini, dimana sebelum memulai siaran ada baiknya untuk “janjian” dengan partner DJ. Misalnya, kamu adalah seorang yang ulung membully dibanding partner kamu, maka saat siaran nanti, kamu lah yang membuka per-bully-sasian, kemudian partner kamu membalas dan endingnya tetap kamu yang berhasil membully dan bisa juga dalam bentuk lain.

 Dalam sesi ini, para peserta sangat antusias untuk bertanya dan mencoba membaca teks yang terpampang pada LCD dan semua yang maju pun dapat melakukan dengan luar biasa, bahkan meskipun dia yang hanya berlatih autodidak! *appreciate it*


Sesi ketiga yaitu tentang TV Broadcasting oleh Mbak Lintang Dwi (@lintangdwi13). Sekilas melihat sosok Mbak Lintang, apperience-nya tidak begitu terlihat sebagai News Reader, ia pun mengiyakan statement tersebut. Pasalnya jika dibandingkan dengan “mbak-mbak di TV” yang selalu tampil feminin, rapih dan bermake up, kali ini yang kami lihat adalah seseorang  yang tomboy, ber-apperience sederhana dan no make up. #WAH . Mbak Lintang malah menambahkan jika daily outfitnya bahkan lebih “gembel” daripada saat di workshop ini. Tapi jangan salah, ketika beberapa video dirinya diputar di layar, tampak sosok yang cantik nan rupawan, "Semua itu karena the make up masterpiece!" imbuhnya.  Ia adalah seorang yang menapaki karirnya benar-benar dari nol melalui radio broadcasting hingga saat ini merambah ke dunia tv broadcasting, sehingga cara ia menyampaikan materi pun dengan sangat lugas dan blak-blakan. 

Ia memulai sesinya dengan berbagi pengalaman yang pernah dan sedang ia jalani diantaranya Radio Announcer for ProAlma 2012-2014, Top 10 TraxHunt 2014, News Reader for TVKU 2013-2015, Radio Announcer for IBCfm 2015 dan News Reader for NET Jateng. Semua itu ia jalani dengan tidak mudah, apalagi dalam dunia jurnalistik ia pertama kali bukalnlah siapa-siapa. Tempat menapaki awal karirnya yaitu di ProAlma (sebuah jaringan radio milik Undip), disanalah tempat Mbak Lintang ”menggembleng” dirinya. “Menjadi presenter tidak harus cantik.” ucapnya dengan tegas. Hal utama yang harus dimiliki seorang presenter ialah karakter BE HUMBLE. Seorang presenter bukanlah siapa-siapa tanpa sebuah teamwork. Maka jangan bayangkan ketika Anda adalah seorang presenter, disaat itu pulalah Anda bak artis, TIDAK. Dalam sesi ini Mbak Lintang pun menguji pengetahuan para audience tentang Bagaimana sebuah berita diliput hingga sampai pada tayangan berita hingga Apa perbedaan News Reader, News Caster dan News Anchor.

News-reader, yaitu seseorang yang hanya membacakan  news based on the text. Contoh: Metro Pagi, Headline News
News-caster, yaitu seseorang yang selain membaca berita, juga ikut aktif dalam mencari berita.
News-anchor, yaitu seseorang yang membaca berita,  memberikan improvisasi atau comment pada berita yang dibacakannya, menghandle live-interview, ikut serta memberikan pelaporan langsung pada saat berita tersebut. Serta ikut dalam perumusan script supaya script bisa disesuaikan dengan style-nya dia.Contoh: Mata Najwa

Sedangkan dalam proses penyampaian berita hingga ke publik oleh pembawa acara, dibutuhkan waktu yang panjang dan rumit. Mulai dari pengambilan take, pembuatan script, editing dan lain-lain. Sehingga tidak mungkin seseorang membawakan berita dengan baik tanpa teamwork, dan itulah mengapa karakter BE HUMBLE selalu ditekankan oleh Mbak Lintang pada sesi ini. Begitupula dengan karirnya saat ini yang semakin menanjak  tidak ia dapatkan dengan sendirinya, semua itu berkat team work yang selama ini ia hargai dalam bekerjasama. Ia pun berbagi pengalamannya sebagai seorang News Reader saat ini, dimana ketika sebuah berita sudah harus ditayangkan pukul 5 pagi misalnya, ia sudah harus ready untuk take pukul 2 dini hari dengan wadrobe dan muka yang segar tentunya. Mbak Lintang pun memberikan kunci utama sebagai seorang pembawa berita profesional yaitu Self Control yang baik. Dimana mereka harus pandai-pandai mengontrol mood mereka (in case seperti sedang mendapatkan masalah hati dll, mereka harus bisa meninggalkan itu semua dan fokus untuk membacakan berita) dan juga membawa suasana berita dengan tepat (eg. Berita bencana dibawakan dengan mimik dan nada bicara yang prihatin, berita pemilu dibacakan dengan tegas, berita achievement dibacakan dengan segar dll).

Overall, saya sangat menikmati workshop Broadcasting Festival ini, meskipun acara tidak diadakan dengan ontime, namun pihak panitia pun berupaya untuk memutar beberapa episode serial Malam Minggu Miko yang menurut saya merupakan ide briliant! Panitia juga telah berinisiatif untuk menyediakan kursi-kursi di panggung untuk para speaker (meskipun pada praktiknya, para speakers lebih memilih untuk berdiri dan berinteraksi lebih intens dengan para audience) juga menyuguhkan performance komunitas-komunitas lokal yang patut diapresiasi.

Pada saat workshop, memang saya hanya kebagian beberapa kali bertanya namun belum sempat untuk maju dan mencoba praktik pada sesi radio broadcasting karena antusias peserta yang sangat tinggi. Namun akhirnya saya mendapat ladang emas untuk mempraktikan workshop tersebut saat diadakannya kegiatan Social Care oleh sekolah saya di sebuah Panti Asuhan dan Pesantren. Disana saya harus bisa mengenal orang-orang baru secara personal yang kesehariannya sangat kontras dengan saya dalam waktu singkat. Berkat workshop ini, saya dapat dengan cepat beradaptasi sekaligus berinteraksi dengan mereka semua. Sebelumnya skill berkomunikasi saya rasa sudah so so lah (menengah ke atas #eh) jika dibandingkan dengan teman-teman pada seusia saya, namun mungkin dibeberapa ocassion, saya masih kurang bisa membawa ambience menjadi segar, sehingga terkesan terlalu formal dan kaku. Namun setelah mengikuti workshop ini, saya menantang diri saya untuk lebih atraktif (melawak), interaktif dan kreatif dalam menghadapi mereka. Alhasil, mereka pun mendapat impresi yang baik dan juga sangat antusias dengan pembicaraan kami (seringkali kami tertawa terpingkal-pingkal bersama #ups) dan pastinya, saya dapat lebih bisa membawa pembicaraan menjadi segar dan meriah. Juga banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan!

HUGE THANKS especially for all of the Speakers and Committee, what a worth remembering workshop ^^! Dan sahabat saya Yasmin yang telah menginfokan saya tentang workshop ini.

Always learn and share! Semoga bermanfaat :)