Halo
sobat Zen! perkenalkan nama saya Berlian, saya dari SMA Negeri 3 Semarang
angkatan 2016. Di blog ini saya akan berbagi tentang pengalaman saya dalam
menghadapi SBMPTN dan UM-UM (Ujian Mandiri) yang pernah saya ikuti. Saya harap
tulisan ini dapat dijadikan semangat sekaligus bermanfaat untuk kalian semua ^^
Sebelum
menerjang ke cerita heroik menembus SBMPTN, saya akan menggabarkan terlebih
dahulu siswa seperti apa diri saya ini selama SMA, hehehe. Jadi Berlian SMA
adalah siswa yang bukan termasuk papan atas dalam segi akademik, tapi jujur
waktu itu saya sangat menikmati bergabung dalam berbagai organisasi,
kepanitiaan, kegiatan, dan mengikuti kompetisi. Mungkin itu sebabnya prestasi saya
dalam akademik jadi kurang maksimal, namun usaha ekstra juga saya lakukan demi
mengejar ketertinggalan jika ada kelas yang tidak saya ikuti.
Hal
itu berlangsung selama 4 semester, saya sangat terlena dengan masa-masa itu
hingga menjelang kelas 12 saya baru menyadari betapa dahsyatnya medan yang akan
saya hadapi kemudian. Sebenarnya hampir seluruh guru telah mengingatkan kami
semua sejak masuk menjadi siswa SMA 3 Semarang, untuk menjaga nama baik
khususnya dalam hal pelajaran. Jadi wejangan-wejangan, tugas-tugas, dan
persaingan kelas yang ketat adalah santapan setiap hari. Saat itu saya
berfikir, ikuti aja semua pelajaran,
kerjakan aja semua tugas, belajar aja setiap malam, maka saya yakin saya pasti
bisa mengerjakan semua ulangan-ulangan yang ada, begitu pikir saya.
Semester 2 dan 3 adalah puncak-puncaknya saya menyibukkan diri
dalam hal non-akademik. Hingga chairmate-saya
memberikan saya tamparan yang luar biasa
saat kita mendapati nilai ulangan fisika. Nilai saya sangat jelek waktu itu,
padahal malam sebelumnya saya sudah belajar. Ya, saya membuktikan betapa
dasyatnya belajar SKS (Sistem Kebut Semalam)+ menghafal telah berhasil
meluluhlantakan nilai saya. Saat itu saya mengeluh padanya, dan apa responnya? “Berli, jangan terlalu banyak ikut kegiatan
dong, coba pikirin nilai-nilaimu. Sebentar lagi kan kita uda kelas 12, kamu
bisa kok. Cuman ya,kegiatanmu tadi ” itu responnya. Perasaan saya ketika
itu adalah terkejut, bahkan sahabat saya saja peduli dengan nilai-nilai saya,
masa saya sendiri cuek. Dan 4 semester berlalu, apa yang saya dapat? Nilai-nilai
hampir selalu mepet kkm, ipk rapot tidak terlalu tinggi, dan impian mendapat 10
besar rangking kelas pupus. Sedih, iya sedih. Tapi saya baru benar-benar sedih
dan menyadari ketika tamat menyelesaikan semester 4. Itu artinya saya akan
menjadi salah satu ujung tombak penentu nasib diri saya, orangtua, sekolah, dan
adik-adik kelas. Semua akan menjadi pertaruhan, kawan!!
]
Liburan menuju kelas 12
akhirnya tiba. Saya memilih untuk lebih sering berada di rumah, saat itu adalah
bulan suci Ramadan. Saya banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, mengaji,
merenung dan memikirkan hal-hal yang akan saya lakukan ke depannya. Perasaan saya
sangat kacau saat itu, entah saya bisa memperbaiki semuanya atau tidak, tapi
yang jelas saya sudah membangun tekad saya untuk tidak main-main di kelas 12.
Ketika saya kumpul keluarga dalam rangka Idul Fitri, saya mengumpulkan uang
hasil nge-job (re: mengisi acara), dan dengan yakin saya akan menggunakan uang
itu untuk berinvestasi dalam menunjang tekad saya. Saya membeli voucher elektrik
12 bulan Zenius.net seharga Rp.440000 di Indomaret terdekat. Tadinya saya ingin
sekali membeli X-Pedia, tapi mengingat kantong terbatas. Dengan dibarengi
tekad, menurutsaya sudah cukup!
Genderang perang pun mulai
ditabuh, kelas 12 akan segera dimulai. Rasa percaya diri saya sebenarnya belum
begitu kuat ketika melihat performa teman-teman -yang selama ini giat belajar-
begitu mendapat soal mereka sudah dengan mulus mengerjakan. Sedangkan saya?
Masih celingak-celinguk memikirkan harus mengerjakan dari sebelah mana
(khususnya fisika). Akhirnya saya mencoba membujuk mami untuk mengijinkan saya
les di bimbel belakang sekolah dengan harga yang sedikit lebih terjangkau. Jadi
di awal semester 5, hari-hair saya saya jalani dengan belajar seharian. Zenius dari
jam 3 pagi hingga subuh, pagi hingga sore sekolah fullday, sore les bimbel, dan malamnya mengerjakan tugas dan
Zenius, selalu seperti itu. Tadinya saya pikir saya akan kelelahan sesudah
seharian belajar, tapi mendengar suara tentor-tentor Zenius yang gokil, jadi
semangat lagi! Alhamdulillah, nilai semester 5 yang saya dapatkan meroket jauh.
Di akhir semester 5, saya mendaftar Ujian Mandiri UGM International Undergraduate
Program (IUP) of Law (first intake) ,pendaftarannya memang sangat awal yang
bisa diindakasikan bahwa besar peluang untuk bisa lolos, meskipun begitu
persiapannya banyak sekali, belum lagi pendaftar-pendaftar yang sudah pernah mencoba sebelumnya membuat
Ujian Mandiri ini sangat menantang. Tapi sayangnya, saya belum beruntung. Setidaknya
saya sudah banyak mencicil materi bahasa Inggris dan menjadikan ini sebagai
reminder!
Kegagalan itu saya jadikan
motivasi dalam memulai semester 6, intensitas dan frekuensi belajar saya
semakin saya tingkatkan. JANGAN LENGAH, kata itu diucapkan mami saya dan selalu memacu saya tidak hanya untuk belajar
namun juga beribadah dan menjaga kesehatan. Oiya, sedikit intermezzo.
Berakhirnya semester 5 berarti dimulainya persiapan berbagai berkas untuk
SNMPTN. Berbagai kebijakan baru yang diadakan kemendikbud salah satunya yaitu
penetapan kuota 75% (sekolah berakreditasi A) dari skala sekolah untuk
selanjutnya dibawa ke skala nasional. Jujur, banyak dari kami yang kecewa
dengan kebijakan baru tersebut. Saya pun berpikir demikian (walaupun sebenarnya
saya tahu diri untuk tidak terlalu berharap pada SNMPTN karena track record saya
selama ini) ,tapi menurut saya kesempatan bersaing dalam kancah nasional lewat
nilai-nilai rapot (SNMPTN) berkat jerih
payah selama 5 semester adalah hak untuk setiap siswa kelas 12 terlebih lagi
hasilnya pun akan diumumkan di awal semester 6, maka bukan tidak mungkin akan berimbas
pada segi mental siswa yang nantinya akan menghadapi Ujian Sekolah (US) dan
Ujian Nasional (UN) setelahnya.
Akhirnya pengumuman 75% sudah
ter-publish, alhamdulillah saya termasuk
dalam jajaran di dalamnya. Tapi itupun rasanya kurang menyenangkan. Terlebih ketika
melihat teman-teman seperjuangan yang tidak tergabung di dalamnya, dilihat dari
raut muka mereka dan postingan sosial media untuk meluapkan kekecewaan mereka. Jadi
menurut saya kebijakan itu baik dari segi persiapan SBMPTN yang berarti dapat dilakukan
jauh-jauh hari, namun dalam prakteknya hal itu dirasa kurang adil dan berdampak
dari segi mental siswa. Namun apa boleh buat, akhirnya kami saling menyemangati
satu sama lain. Di semester 6 kami disibukkan dalam segala macam persiapan UN
dan Try Out. Tapi kalau saya sih memang lebih memilih sarannya Bang Sabda, memperjuangkan
SBMPTN!!
Hal yang lebih memilukan pun
akhirnya terjadi, saat sesudah UN dan pengumuman SNMPTN akhirnya keluar.
Sekolah saya SMA N 3 Semarang, berhasil menggemparkan dunia pendidikan
Indonesia. Permasalahannya adalah 100% siswa IPA reguler jalur SNMPTN tidak ada
yang diterima satu pun. Bukannya sombong, namun sekolah itu memang salah satu
sekolah favorit dan otomatis jalur undangan adalah idaman setiap insan
siswa+orang tua+pihak sekolah+pemerintah. (
kecuali saya :”) ) Kejadian ini
pun menjadi tragedi yang membuat kami semua pihak berfikir bahwa sepertinya ada
kejanggalan dalam sistem input data. Hingga saat ini pun kasus ini masih
diselidiki oleh para orang tua siswa, sekolah dan pemerintah. Namun hal yang
ingin saya sampaikan adalah banyak dari teman-teman saya yang beberapa saat terlarut
dalam menanggapi hal ini, disatu sisi hal itu wajar, namun disisi lain kita
semua harus saling mengingatkan dalam persiapan SBMPTN. Dengan berbagai
pemberitaan di media yang simpang siur, keadaannya pun kadang tidak terlalu
kondusif. Terkadang di sela-sela belajar, kami jadi keasyikan mendiskusikan hal
ini –yang notabenenya kami ada sangkut paut di dalam permasalahan itu secara
langsung-. Belum lagi ketika orang-orang lain yang kepo ikutan bertanya dan
meminta penjelasan dari kami. Kadang saya menjadi sedikir khawatir akan pecah
konsentrasi. Namun saya selalu ingat untuk JANGAN LENGAH.
Oiya tidak lama seudah itu, saya mengikuti
Ujian Mandiri UGM (lagi) yang namanya Penelusuran Bakat Olahraga dan Seni
(PBOS). Jalur ini dibuka sebelum adanya SBMPTN, so memang banyak sekali yang memanfaatkan
kesempatan ini jika diliat dari pendaftarnya yang mencapai ribuan. Di PBOS terdapat
3 tahap yaitu seleksi berkas, tes tertulis, dan tes ketrampilan. Di tahap kedua
saya benar-benar tidak menyangka karena dari sekitar 800-an yang lolos tahap
pertama akan disaring menjadi hanya 70 orang. Sekali lagi, berkat Zenius di bagian TPA which is seringkali ‘diam-diam
menghanyutkan’ ,saya lolos. Puji syukur ! Saat itu saya mendaftar IPC (Kedokteran Gigi dan
Hukum). Tapi sayangnya di tahap tiga, keberuntungan belum ada di pihak saya. Aga
deg-degan sih (re: banget), karena itu berarti SBMPTN suda di depan mata.
Hingga saatnya saya bener-bener punya niatan untuk memilih antara Saintek atau
Soshum supaya belajar saya lebih maksimal. Karena jujur saja, apa yang dikatakan
Bang Sabda di video-video Zenius Learning which is sangat mengingatkan kita
bahwa DELIBERATE PRACTICE dan persiapan
sejak jauh-jauh hari itu benar dan sangat ampuh, so strategi saya saat itu
adalah benar-benar fokus di salah satu bidang, dan akhirnya saya memilih
Soshum.
*Banyak diantara teman-teman
saya yang bertanya “Loh Berli kok jadinya
ambil Ilmu Hukum?” and so on.. padahal dulu saya sangat anti untuk memasuki
ranah social studies ini. Namun kala
itu saya mendapat sebuah getaran hati dari dalam diri saya. Papi saya telah
meninggal dunia dan setelahnya banyak
hal yang terjadi, disitu saya sangat merasakan betapa susahnya menjadi seorang
single-parent dan anak yang kehilangan ayahnya dalam mengarungi kehidupan.
Mungkin hal ini terdengar terlalu alay dan abstrak,namun hal tersebut nyata,
seperti banyaknya hambatan dari segi finansial, sosial dan lain-lain. Akhirnya
saya tergerak untuk memiliki sebuah foundation untuk menyantuni anak-anak yatim
dan melindungi para widow yang
seringkali dalam posisi yang kurang mengenakan ketika bersosialisasi di
masyarakat. Untuk mewujudkan cita-cita itu, maka saya pun merasa harus
mengetahui bagaimana cara melindungi mereka dari berbagai aspek khususnya dalam
ranah hukum.*
Sebenarnya saya juga sedih sih
karena setiap hari saya selalu menjadi pendengar setia Bang Wisnu, Bang Pras
dan Kak Yoki, kini saya harus benar-benar vacum saintek,banting stir ke soshum dan
pentengin kak Faishal (menggebu banget setiap kali bercerita) ,bang Pio (gokil
parah suaranya, saya jadi ketawa-ketawa sendiri) dan yang pasti Bang Sabda (yang
selalu bikin belajarnya cewe-cewe jadi suka salah fokus karena melting dengerin
suaranya ,hahaha!). Oiya lucunya lagi, mami saya itu suka banget kalau nemenin saya
belajar Zenius setiap harinya, saking-saking malah mami request buat dengerin Ekonomi lah atau Geografi atau yang lain,
supaya tambah pinter katanya. Hingga peliharaan mami juga beliau kasi nama
Zenius agar saya selalu ingat dan tidak lengah seperti masa-masa perjuangan, ada-ada
saja emang.
Meskipun ini ilmu baru yang saya
pelajari tapi berkat Zenius saya bisa benar-benar paham banget konsepnya. Jujur saya waktu itu baru berbekal Ekonomi dan Sejarah doang pas kelas 10 sampai
11, selebihnya masih benar-benar belum tau.
Belajar dengan Zenius itu
menurut saya bisa santai dan bikin mudeng!
Beberapa kali saya try out dan hasilnya puji syukur selalu memuaskan, jadi
teman-teman seperjuangan dan khususnya yang sama-sama banting stir seperti saya,
mereka meminta saya untuk mengajari dan menjelaskan. Alhasil saya pun juga
makin ingat, thanks berat Zen!
Detailnya saya milih :
Pilihan 1 SBMPTN : Ilmu Hukum
Universitas Diponegoro
Pilihan 1 UTUL : Ilmu Hukum
Universitas Gadjah Mada
Pilihan 1 UM UNDIP :
International Undergraduate Program (IUP) International-Bussines Management
Alhamdulillah, ketiganya saya
lolos di pilihan satunya Zen!!! dan akhirnya saya memilih Ilmu Hukum Universitas
Diponegoro (SBMPTN). Puji syukur, mami saya bangga sekali dan saya pun senang
setidaknya telah membuat mami bangga! Dan INI BUKAN AKHIR, NAMUN AWAL DARI
PERJUANGAN YANG SESUNGGUHNYA.
So guys, banyak sekali hikmah
dan pembelajaran yang saya dapatkan selama SMA ini khususnya di kelas 12 dan
berkat Zenius juga saya bisa meraih ini semua. Terlepas banyak kegagalan dan
masalah yang pernah saya hadapi, jika dibarengi tekad dan niat pasti semua akan
tercapai. Yang sangat berkesan bagi saya dari Zenius adalah Zenius Learning –disampaikan
oleh Bang Sabda waktu itu- Zenius bukan
cuma ngebantu lo buat tembusin ujian-ujian yang ada tapi lebih daripada itu,
Zenius juga ngebantu lo untuk membangun fondasi-fondasi pemikiran lo dalam
berolah pikir ke depan. Ya,saya mendapatkan itu semua dari Zenius dan itu
yang menurut saya adalah ilmu yang ngga setiap kita temui dan sangat berharga.
Sekali lagi saya mau bilang terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Zenius Education
yang uda membantu kami semua selama ini dalam meraih cita-cita.
Semoga tulisan ini memberi
inspirasi untuk semua, thanks guys!